Taksonomi SOLO dalam Perspektif Khazanah Islam



Menakar Kedalaman Pemahaman dalam Tradisi Ilmu Islam

“Sungguh dalam kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang memiliki akal.”
(QS. Yusuf: 111)


📌 Mengapa Taksonomi Itu Penting?

Dalam dunia pendidikan modern, kita mengenal berbagai taksonomi atau sistem klasifikasi untuk mengukur tingkat pemahaman peserta didik. Salah satu model yang baru-baru ini dipopulerkan oleh dinas Pendidikan adalah Taksonomi SOLO (Structure of Observed Learning Outcomes) yang dikembangkan oleh Biggs dan Collis.

Namun tahukah kita bahwa konsep serupa telah lama hidup dalam tradisi Islam, bahkan dengan kerangka epistemologis dan spiritual yang lebih utuh?

Sebagai guru, terutama di madrasah dan pesantren, memahami kerangka SOLO dalam khazanah Islam dapat membantu kita: 

  1. Membimbing siswa dari sekadar tahu menuju paham dan bijaksana
  2. Menyusun pembelajaran berjenjang secara maknawi
  3. Menyadari bahwa ilmu bukan hanya informasi, tapi cahaya hidup


🧠 Apa itu Taksonomi SOLO?

Taksonomi SOLO menilai kedalaman pemahaman siswa, bukan sekadar benar-salahnya jawaban. Ada 5 level:

  1. Prestruktural – Belum memahami
  2. Unistruktural – Memahami satu bagian
  3. Multistruktural – Memahami beberapa bagian tapi belum terhubung
  4. Relasional – Memahami keterkaitan antar bagian
  5. Extended Abstract – Mampu mentransformasi dan menerapkan makna dalam konteks baru

Model ini sangat bermanfaat dalam tadabbur, tafsir, atau pembelajaran maknawi, bukan hanya hitungan atau hafalan.


📚 Taksonomi Pemahaman dalam Khazanah Islam

Dalam tradisi Islam, para ulama telah menyusun model pemahaman yang mirip taksonomi SOLO jauh sebelum era modern. Misalnya:

1. Al-Ghazali dan Tingkatan Yakin

Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din membagi pengetahuan ke dalam tiga tingkatan:

Tingkatan GhazaliPadanan SOLO
Ilm al-YaqinMultistruktural
‘Ayn al-YaqinRelasional
Haqq al-YaqinExtended Abstract
Contoh: Siswa tahu bahwa sedekah itu baik (ilm al-yaqin), lalu melihat manfaatnya secara nyata (‘ayn al-yaqin), hingga menjadikan sedekah sebagai prinsip hidup (haqq al-yaqin).

2. Ibn Sina dan Proses Kognisi

Ibn Sina menyebut tahapan berpikir:

  1. Takhayyul (imajinasi)
  2. Tashawwur (pengertian)
  3. Tashdiq (keyakinan atas proposisi)
  4. Istinbath (penarikan makna)
  5. Hikmah (kebijaksanaan)

Ini menunjukkan bahwa pemahaman tidak stagnan, tetapi berkembang menjadi struktur yang utuh dan berimplikasi pada perilaku.


3. Model Pendidikan Halaqah Pesantren

Fase TradisionalPadanan SOLO
Talaqqi (mendengar)Prestruktural
TahfizhUnistruktural
Syarḥ (penjelasan)Multistruktural
Taḥqīq (pendalaman)Relasional
Muraqabah (perenungan)Extended Abstract
Model ini bukan hanya untuk kognisi, tapi juga untuk tazkiyah (penyucian diri).

Mengapa Guru Perlu Memahami SOLO dalam Khazanah Islam?

  1. 📖 Agar tidak terjebak pada hafalan tanpa makna→ Anak bisa hafal 30 juz, tapi tidak memahami nilai sosial ayat.
  2. 🧩 Menyusun pembelajaran yang bertahap dan bermakna→ Misalnya, memahami makna sholat bukan sekadar gerakan, tapi juga relasi sosial dan spiritual.
  3. 💡 Mengembangkan santri/ siswa menjadi pembelajar reflektif→ Mereka bukan hanya “tahu”, tapi bisa “menyikapi” dan “menginternalisasi” ilmu.
  4. 🌱 Meneguhkan identitas epistemologis Islam→ Bahwa Islam punya model berpikir yang dalam, bertahap, dan bersifat ruhani.

🛠️ Aplikasi Praktis di Kelas

Tema PelajaranLevel SOLO IslamiContoh Aktivitas Guru
Akhlak (sabar)Unistruktural – RelasionalDiskusi kisah Nabi Ayyub, dihubungkan dengan sabar saat ujian
Tafsir TematikMultistruktural – Extended AbstractMenafsirkan ayat tentang keadilan, lalu menganalisis isu sosial
Bahasa Arab (nahwu)Prestruktural → MultistrukturalDari menghafal definisi ke membandingkan struktur kalimat

🏁 Penutup: Menghidupkan Ilmu yang Bermakna

Sebagai guru, kita bukan hanya mentransfer pengetahuan, tetapi membimbing siswa menapaki tangga makna. Taksonomi SOLO dalam khazanah Islam menunjukkan bahwa puncak belajar adalah transformasi diri, bukan sekadar ujian tertulis.

Dengan memahami dan menerapkan prinsip SOLO versi Islam, kita bisa menjadi guru yang membangkitkan cahaya dalam hati murid, bukan sekadar memberi isi pada otak mereka.

“Ilmu tanpa makna adalah beban,

Makna tanpa amal adalah ilusi,

Tapi ilmu yang tumbuh dalam pemahaman dan amal,

Itulah cahaya yang menuntun peradaban.”

Referensi:

Buku:
Biggs, John B., and Kevin F. Collis. Evaluating the Quality of Learning: The SOLO Taxonomy (Structure of the Observed Learning Outcome). New York: Academic Press, 1982.

Bloom, Benjamin S., ed. Taxonomy of Educational Objectives: The Classification of Educational Goals. Handbook I: Cognitive Domain. New York: David McKay Company, 1956.

Al-Ghazali. Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn. Beirut: Dār al-Ma‘rifah, n.d.

Ibn Sīnā. Al-Shifāʾ: Al-Manṭiq wa al-Burhān. Cairo: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, n.d.

Muthahhari, Murtadha. Understanding Islamic Sciences. Qom: Sadra Islamic Philosophy Research Institute, 2002.


Artikel Jurnal:

Muzammil, M. “Analisis Penggunaan Taksonomi SOLO dalam Penilaian Pembelajaran Tematik di Sekolah Dasar.” Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar 5, no. 1 (2019): 45–55.

Nashir, M. “Tingkat Pemahaman Ayat al-Qur’an dalam Model Taksonomi Kognitif: Tinjauan Komparatif antara Bloom dan SOLO.” Tafsiruna: Jurnal Tafsir dan Ilmu Al-Qur’an 3, no. 2 (2021): 200–215.

Rokhman, Fathur. “Model Epistemologi Islam dalam Pendidikan Multikultural.” Jurnal Pendidikan Islam 2, no. 1 (2016): 123–139.Yusof, Mohd, and Rosnani Hashim. “The Epistemological Framework of Islamic Education.” International Journal of Islamic Thought 12 (2017): 56–66.

Oleh: Julhelmi Erlanda (Mahasiswa Doktoral Pendidikan Kader Ulama & Universitas PTIQ Jakarta)


Post a Comment

Previous Post Next Post

Iklan Post 2

نموذج الاتصال