Keberadaan kata “ikatan” pada organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) bukanlah tanpa alasan. Pada dasarnya, kehadiran kata “ikatan” menjadi dasar semangat persatuan dan kesatuan bagi siapa saja yang mengaku sebagai kader IMM. Sejak memasuki organisasi ini, setiap kader IMM ditanamkan bahwa mereka layaknya satuan lidi yang kemudian diikat menjadi satu seperti sapu lidi, sehingga kehadiran mereka dapat membersihkan kebatilan dengan mudah.
IMM, bagi siapa saja yang merasa sebagai kadernya, sudah sepantasnya bersama-sama mengupayakan organisasi ini sebagai rumah yang nyaman untuk kembali, mengupayakan IMM sebagai ruang yang aman bagi siapa saja untuk berkembang dan membuang keluh. Tentunya bila hal ini dilaksanakan secara bersama-sama oleh individu waras dan penuh tenggang rasa, akan menjadi hal yang mudah untuk diwujudkan. Namun, pada akhirnya kader IMM adalah manusia yang memiliki pikiran, ego, dan nafsu pribadi. Maka, tidak heran bilamana banyak dinamika yang terjadi di tubuh organisasi ini.
Tidak ada yang salah dalam dinamika. Dinamika dalam organisasi menandakan bahwa masih banyak orang yang “berpikir” dalam organisasi tersebut. Dinamika juga menjadi pemicu dari pertumbuhan, sebagaimana yang disebutkan dalam Teori Konflik. Konflik, menurut Marx, merupakan salah satu faktor penggerak sejarah. Konflik yang terjadi dalam suatu kelompok, memang akan berujung pada persaingan, tetapi juga pada kemajuan suatu kelompok. Satu kelompok akan bersaing dengan kelompok lain. Mereka akan saling menunjukkan siapa yang paling layak untuk memimpin suatu kelompok. Perselisihan seperti ini, terlepas dari bagaimana caranya, sebenarnya adalah perselisihan yang baik karena akan bermuara pada kemajuan kelompok.
Dalam memahami dinamika, hal yang perlu diperhatikan ialah bukan pada sebanyak apa dinamika itu terjadi, tetapi sejauh mana dinamika ini kemudian dapat mengantarkan pada kemajuan. Artinya, dinamika itu perlu, tetapi bila dinamika yang terjadi hanya menyebabkan kerugian dan suasana kontra-produktif, maka inilah yang perlu menjadi perhatian bersama. Nampaknya dinamika seperti inilah yang sedang terjadi dalam tubuh Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Kota Semarang.
Setidaknya butuh tiga bulan bagi PC IMM Kota Semarang melakukan fiksasi struktural organisasi, Februari hingga Mei. Waktu yang sebenarnya terbilang lama bagi sebuah cabang besar seperti PC IMM Kota Semarang untuk melaksanakan pelantikannya. Terlepas memang adanya pengaruh eksternal seperti berlangsungnya Darul Arqam Paripurna pada April lalu. Namun, tiga bulan bukanlah waktu yang sebentar. Keterlambatan pelantikan ini kemudian menyebabkan terlambatnya progress cabang. Terlambatnya progress cabang juga berarti dengan terlambatnya rapat kerja PC IMM Kota Semarang, terlambatnya rapat kerja bidang se-IMM Kota Semarang, terlambatnya open recruitment Lembaga Semi Otonom di bawah PC IMM Kota Semarang, dan bahkan berakibat pada kebingungan komisariat dalam menjalankan program kerja yang berkaitan dengan cabang. Padahal, ada banyak pekerjaan rumah yang perlu digarap, baik itu berkaitan dengan cabang, komisariat, maupun kader-kader di PC IMM Kota Semarang.
Sebagai seorang kader yang masih ada di tingkat komisariat dan tidak dekat dengan lingkaran formatur maupun struktural pimpinan cabang, keterlambatan ini penulis coba raba-raba alasannya. Setidaknya, ada dua hal yang menjadi kemungkinan dari dinamika ini, yakni kurangnya kader yang mumpuni untuk mengisi kursi pimpinan dan bongkar-pasang yang alot di forum formatur. Kedua hal ini masih ada kaitannya dengan pekerjaan rumah yang sempat disinggung sebelumnya.
Menjadi hal yang memalukan sebenarnya bagi PC IMM Kota Semarang bila mengatakan bahwa mereka kekurangan kader. Kehadiran 21 komisariat di cabang ini seharusnya lebih dari cukup untuk dapat mengisi kursi pimpinan organisasi. Kekurangan kader ini menandakan lampu kuning, bila malu menyebutnya lampu merah, dalam tubuh PC IMM Kota Semarang. Kurangnya kader menunjukkan bahwa PC IMM Kota Semarang tidak mampu untuk menyiapkan kader dengan baik.
Selanjutnya, hal yang berkesinambungan dengan kurangnya kader, atau tepatnya ketidakmampuan PC IMM Kota Semarang dalam mencetak kader, yakni bongkar-pasang yang alot di forum formatur. Tawar-menawar kursi dan jabatan memang hal yang lumrah terjadi, tetapi bila menimbulkan sakit hati, maka tidak pernah ada yang baik dari sini. Apalagi, pengisian kursi kosong itu masih dilakukan beberapa hari sebelum pelantikan.
Ada kasus yang dialami salah satu kader IMM di komisariat penulis sendiri. Pada periode ini, dia dijanjikan untuk masuk ke bidang Kesehatan PC IMM Kota Semarang, tetapi karena alasan yang kurang jelas bidang Kesehatan dibubarkan dan ditawarkan untuk melebur dengan bidang SPM. Kedua bidang ini tentunya memiliki arah gerak yang berbeda, atas dasar itulah semua calon unsur bidang Kesehatan, kecuali kader komisariat penulis, menolak dan memilih tidak masuk cabang sama sekali.
Namun, huru-hara tersebut tidak berhenti sampai di situ saja, kehadiran kader komisariat penulis ternyata tidak dianggap atau mungkin memang tidak diketahui oleh ketua bidang Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat (SPM) sendiri hingga pertengahan April, padahal pembubaran bidang Kesehatan sudah ada sejak Maret. Tetapi, masalah ini akhirnya dapat diselesaikan. Hal menggelikan yang terjadi kemudian adalah beberapa hari sebelum pelantikan, wacana pembentukan bidang Kesehatan kembali dinaikkan di internal formatur, sehingga terbentuklah bidang Kesehatan dengan formasi yang berbeda.
Masalah seperti ini mungkin saja terjadi di bidang lain, atau bila pun tidak persis terjadi, setidaknya bongkar-pasang struktural terjadi dengan alot di tengah-tengah formatur. Buktinya, pelantikan PC IMM Kota Semarang terjadi di bulan ketiga pasca Musyawarah Cabang.
Sekarang, satu bulan sudah berlalu sejak dilantiknya PC IMM Kota Semarang periode 2026-2027. Sejak satu bulan itu pula PC IMM Kota Semarang sudah mulai efektif dalam menjalankan segala macam program dan kegiatan mereka. Namun, hawa “panas” masih bisa dirasakan, meski secara tak kasat mata. Aroma ketidakpuasan di antara satu kelompok dengan kelompok lain dalam tubuh PC IMM Kota Semarang masih dapat dirasakan. Layaknya bom waktu, “perselisihan” yang terjadi dalam kedamaian “panas” ini bisa saja akan meledak di satu momen tertentu.
Sebagai kader yang mencintai pimpinannya, tentunya penulis tidak berharap perpecahan itu terjadi. Malah, penulis berharap supaya perselisihan itu dapat diselesaikan, bukan dalam kedamaian yang masih panas, tetapi dalam damai yang tentram.
Penulis yakin, semua kubu menginginkan yang terbaik bagi ikatan ini, tetapi kita tidak bisa terlepas dari sifat dasar manusia yang memiliki pikiran, ego, dan nafsu pribadi. Setiap orang memiliki tafsir dan keinginan untuk meninggalkan legacy. Maka, bila memang setiap pimpinan yang ada di PC IMM Kota Semarang masih memiliki kewarasan, mengedepankan sikap tenggang rasa harus dilakukan. Bila tidak, sesuai apa yang penulis sendiri coba raba dalam pikiran, PC IMM Kota Semarang hanya akan berakhir sebagai organisasi yang menanggung nama IMM tanpa menorehkan keberdampakan bagi masyarakat, meninggalkan nilai kemasyarakatan dalam trilogi ikatan.
Oleh: Yudistira Brigas Wohingati
mahasiswa S-1 Program Studi Sejarah Universitas Diponegoro, kader Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Ibnu Sina.