Tafsir bil Ma’tsūr dan Hermeneutika: Penyandingan yang tidak tepat



Suatu hari di ruang kuliah metodologi tafsir, seorang dosen sedang menjelaskan tafsir bil ma’tsūr. Baru beberapa menit berjalan, seorang mahasiswa menyela dengan nada yakin: “Pak, metode tafsir itu sudah ketinggalan zaman. Sekarang zamannya hermeneutika.”
Kelas seketika hening. Sang dosen tersenyum—bukan karena setuju, melainkan karena satu hal: pernyataan mahasiswa semacam ini terdengar cerdas, tetapi menyimpan kekeliruan mendasar. alias kurang pas.

Ucapan mahasiswa tersebut bukan kasus tunggal. Ia mewakili cara berpikir yang salah arah, banyak dari kita yang melakukan hal yang sama: menempatkan tafsir bil ma’tsūr dan hermeneutika sebagai dua metode tafsir yang saling berhadapan. Padahal, jika ditelusuri secara metodologis, penyandingan ini bermasalah sejak titik awal.

Tafsir bil ma’tsūr bukanlah metode penafsiran dalam pengertian teknis-filosofis, melainkan klasifikasi sumber penafsiran. Ia menjawab pertanyaan: dari mana makna diturunkan? Karena itu, penafsiran dilakukan dengan merujuk pada Al-Qur’an, Sunnah Nabi, serta penjelasan sahabat dan tabi‘in. Fokus utamanya adalah otoritas dan transmisi makna, bukan mekanisme produksi makna.

Hermeneutika bergerak di wilayah yang berbeda. Sejak Schleiermacher hingga Gadamer, hermeneutika dikembangkan sebagai kerangka filosofis tentang bagaimana teks dipahami, bagaimana makna lahir dari perjumpaan antara teks, konteks, dan subjek penafsir. Ia tidak menyoal sumber riwayat, tetapi proses pemaknaan itu sendiri.

Di sinilah kekeliruan umum terjadi. Bil ma’tsūr diperlakukan sebagai “metode” yang harus ditandingkan dengan hermeneutika, padahal keduanya bekerja pada level yang tidak sama. Yang sepadan dengan hermeneutika dalam tradisi Islam justru adalah manhaj bayānī, lughawī,  uṣūlī dan Tafsir Maqasidi, tradisi tafsir yang paling didiskusikan baru-baru ini.  tradisi islam ini adalah  metode-metode yang sama-sama membahas cara memahami makna teks. 

Jika tetap ingin mencari padanan Barat bagi tafsir bil ma’tsūr, maka yang lebih mendekati bukan hermeneutika, melainkan tradition-based exegesis, seperti patristic interpretation dalam studi Bible, yang sama-sama bertumpu pada otoritas tradisi dan transmisi makna.

Karena itu, menyandingkan tafsir bil ma’tsūr dengan hermeneutika bukan hanya tidak tepat, tetapi juga mencampuradukkan kategori. Yang satu berbicara tentang asal dan otoritas makna, yang lain tentang cara memahami makna.

Maka persoalannya bukan siapa yang lebih modern atau lebih klasik. Persoalannya adalah ketepatan berpikir. Dan pada titik ini, harus dikatakan dengan jujur:
tafsir bil ma’tsūr dan hermeneutika bahkan tidak selevel alias beda ranah bahasan.

Oleh: Dr. KUMI. Julhelmi Erlanda, M.Hum

Post a Comment

Previous Post Next Post

Iklan Post 2

نموذج الاتصال